Menilik Potensi PLTS di Indonesia dari Sudut Pandang Lingkungan
Kalimaya Qolbi Sani, Karlindya Rahma, Lyslin Yusi Melani, Muhammad Reyhandhia Athallah Hidayat, Indah Rosita Dewi, Listia Aulia Ruwaidah, Izzuki Hamida, Luthfi Mursid Darmawan, Jessica Paleta
Indonesia memiliki banyak potensial energi terbarukan akan tetapi pemanfaatannya belum optimal. Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber alternatif untuk mengatasi krisis energi perlu sangat diperhatikan agar dalam pemanfaatannya tidak menimbulkan polusi yang merusak lingkungan. Sayangnya, biaya pembangkitan PLTS masih lebih mahal apabila dibandingkan dengan biaya pembangkitan pembangkit listrik tenaga konvensional. Sampai saat ini piranti utama untuk mengkonversi energi matahari menjadi energi listrik (modul fotovoltaik) masih merupakan piranti yang didatangkan dari luar negeri.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia terletak di garis khatulistiwa, sehingga Indonesia mempunyai sumber energi surya yang berlimpah dengan intensitas radiasi matahari dengan rata-rata sekitar 4.8 kWh/m2 per hari di seluruh wilayah Indonesia. Meski berlimpah, sumber energi surya masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal, sedangkan di sisi lain ada sebagian wilayah Indonesia yang belum terlistriki karena tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN. Nah, untuk lebih jelasnya, yuk kita belajar bersama mengenai PLTS ini !!!
Penggunaan PLTS memiliki 2 cara yaitu dengan pemusatan energi panas matahari dan juga menggunakan panel surya. Pemusatan energi panas adalah cara menghasilkan listrik untuk memanaskan air. Pemanasan air ini akan menghasilkan uap air yang nantinya digunakan untuk menggerakkan pembangkit listrik (Sanspower.com). Sedangkan PLTS dengan panel surya yaitu upaya pembangkit listrik tenaga matahari yang dilakukan secara langsung dengan sel surya atau fotovoltaik.
Gambar 1. Pemusatan Energi Gambar 2. Panel Surya. Sumber: Sanspower.com Prinsip kerja PLTS dengan panel surya sendiri adalah jika cahaya matahari mengenai panel surya, maka elektron – elektron yang ada pada sel surya akan bergerak dari N ke P, sehingga pada terminal keluaran dari panel surya akan menghasilkan energi listrik (Ramadhan dkk., 2016). Sistem fotovoltaik mengubah radiasi sinar matahari menjadi listrik. Fotovoltaik (biasanya disebut juga sel surya) adalah perangkat semikonduktor yang berfungsi sebagai perubah cahaya secara langsung menjadi menjadi arus listrik searah (DC) dengan menggunakan kristal silikon (Si) yang tipis (Bachtiar, 2006).
Gambar 3. Proses terjadinya energi listrik dari tenaga surya.
Sumber: Santhiarsa dan Kusuma, 2005.
Proses PLTS dari panel surya dalam menghasilkan energi listrik meliputi beberapa tahap. Tahap tersebut diawali dengan foton di dalam cahaya matahari akan menghantam bahan semikonduktor pada pada sel surya. Pada proses penghantaran ini elektron akan terpisah dari atom bahan semi konduktor terpisah. Kemudian panas matahari tersebut akan digunakan untuk memanaskan cairan yang selanjutnya menjadi uap, uap tersebut akan dipanaskan oleh sebuah generator yang akhirnya akan menghasilkan listrik. Elektron yang terpisah ini dapat bergerak dengan bebas sehingga bisa diarahkan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, elektron ini memiliki muatan negatif sedangkan atom yang memiliki elektron akan bermuatan positif. Adanya pelepasan elektron ini menyebabkan
bahan semikonduktor pada akhirnya mengelompok menjadi dua daerah, yaitu daerah bermuatan positif dan daerah bermuatan negatif. Kedua daerah yang dibentuk melalui pemisahan elektron ini nantinya akan bergerak berlawanan arah. Pergerakan daerah bermuatan positif dan daerah bermuatan negatif yang berlainan arah ini nanti akan menyebabkan munculnya arus listrik. Listrik yang dihasilkan oleh sistem panel surya dapat digunakan secara langsung. Misalnya lampu, pompa, radio, dan lain sebagainya.
Penggunaan panel surya selama 24 jam dengan bantuan penggunaan baterai.
Gambar 4. Prinsip kerja Sel Surya. Sumber: Santhiarsa dan Kusuma, 2005. Energi listrik yang yang dihasilkan oleh PLTS ini dipengaruhi oleh ketergantungan jumlah energi cahaya yang mencapai sel surya, luas permukaan, dan jumlah sel surya (Bachtiar, 2006; Ramadhan dkk., 2016). Hasil atau keluaran dari panel surya berupa arus listrik searah (DC). Jika ingin menghasilkan arus listrik bolak-balik (AC), maka harus dihubungkan ke sebuah rangkaian elektronik atau modul 30 elektronik yang bernama Inverter DC-AC (Ramadhan dkk., 2016). Penggunaan listrik sering dibutuhkan hampir sepanjang hari, terutama malam hari (kondisi saat panel surya tidak disinari cahaya matahari), maka kelebihan daya listrik yang dihasilkan di siang hari harus dihubungkan dan disimpan ke sebuah media penyimpanan (storage) berupa baterai (Ramadhan dkk., 2016; Indonesia Clean Energy Development II, 2018). Namun, tidak bisa langsung dihubungkan secara langsung, tetapi harus dihubungkan ke rangkaian regulator, dimana di dalam rangkaian tersebut terdapat rangkaian pengisi Baterai otomatis (Automatic charger). Semakin tinggi intensitas radiasi matahari yang mengenai sel fotovoltaik, semakin tinggi daya listrik yang dihasilkannya (Indonesia Clean Energy Development II, 2018). Faktor yang dapat mempengaruhi energi keluaran yang dihasilkan dari panel surya di dalam Kristiawan
dkk (2019) antara lain : bayangan (shading), efisiensi, sudut penyinaran (angle of incidence), orientasi panel surya, suhu (temperature), cuaca (cerah, mendung, dan gerimis), serta intensitas radiasi matahari (irradiance).
Gambar 5. Diagram Komponen PLTS Terpusat. Sumber: Indonesia Clean Energy Development II, 2018.
Listrik merupakan salah satu energi yang krusial dalam segala aspek kehidupan. Pemenuhan kebutuhan energi listrik dapat diupayakan dengan pemanfaatan energi terbarukan yakni sinar matahari melalui PLTS. Intensitas sinar matahari di Indonesia sepanjang tahunnya cukup baik dan berpotensi untuk diterapkannya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Potensi PLTS Indonesia sangat besar kurang lebih diatas 1 TW akan tetapi intensitas sinar matahari di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor lain seperti awan dan cuaca. Akibatnya kapasitas terpasang relatif rendah meskipun tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan keberadaan PLTS cukup populer untuk pemenuhan kebutuhan listrik di pedesaan. Sistem yang digunakan dalam program tersebut dikenal sebagai Solar Home System (SHS) yang umumnya berbentuk bantuan pemerintah melalui subsidi dan dipergunakan untuk keperluan penerangan. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa program pemerintah mempengaruhi perkembangan SHS.
Beberapa waktu terakhir ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mulai meningkat eksistensinya melalui sistem grid interactive. Sistem ini lebih dikenal dengan istilah Hybrid PLTS-PLN. Penerapan PLTS grid interactive dilatar belakangi oleh kesadaran untuk menggunakan energi yang ramah lingkungan dan menyelesaikan permasalahan sosial seperti penggunaan BBM berlebih untuk penerangan dengan genset. Disisi lain pengembangan PLTS terus didukung oleh pemerintah daerah hingga BUMN dengan harapan berkurangnya ketergantungan terhadap penggunaan BBM dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Pengembangan PLTS di Indonesia memiliki hukum yang cukup kuat dalam
aspek kebijakan tetapi dari segi implementasinya masih kurang dan belum optimal. Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia hanya sampai pada tahap produksi modul surya sedangkan sel suryanya masih impor. Padahal sel surya ini merupakan komponen paling penting dalam sistem PLTS. Harga yang relatif mahal menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Keberhasilan PLTS di Indosesia sendiri dapat dilihat dari segi terpasangnya unit PLTS, pengoperasian serta perawatan. Kenyataannya PLTS di Indonesia sering ditemukan dalam keadaan rusak bahkan sistemnya tidak beroperasi lagi. Namun, program PLTS di NTB telah menunjukkan bahwa PLTS mampu memberikan penerangan bagi kurang lebih 1700 KK di wilayah tersebut. Saat ini Indonesia memiliki basis pengembangan PLTS dari aspek kebijakan yang cukup kuat. Seperti Kebijakan Energi Nasional jangka panjang (2006-2025) dalam Perpres No.5. Tahun 2006 dan Permen ESDM No 53 tahun 2018. Namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Kapasitas terpasang saat ini relatif masih rendah yaitu 0,135 GWp atau 0,02% dari total potensi yang dapat dihasilkan melalui PLTS.
Penggunaan PLTS di sektor lingkungan memiliki beberapa dampak positif salah satu dampak yang cukup besar dirasakan adalah tidak menghasilkan emisi karbon. Terlebih lagi, PLTS merupakan salah satu energi terbarukan yang artinya dapat bermanfaat secara berkelanjutan dan dapat diperbaharui secara terus menerus. Hal tersebut secara otomatis membuat tingkat penggunaan energi fosil akan menurun sehingga emisi karbon pun ikut berkurang. Alhasil, kondisi polusi dan pemanasan global bisa ikut ditekan sehingga lingkungan pun lebih terjaga. Selain itu, dampak positif dari adanya PLTS adalah hemat energi. Penggunaan PLTS dalam menghasilkan energi listrik tidak memerlukan bahan bakar konvensional yang berasal dari sumber daya tidak terbarukan. Dengan ini PLTS dapat mengurangi ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Hal ini tentu membuat penggunaan PLTS dalam jangka panjang menjadi lebih hemat.
Dampak positif lain dari PLTS adalah dalam penggunaan air. Air adalah salah satu sumber daya alam yang paling berharga dan suatu saat kita dapat menghadapi risiko kehabisan air tawar. Pembangkit listrik lain seperti pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil, pembangkit listrik tenaga nuklir, panas bumi dan lainnya dapat menggunakan ribuan liter air setiap tahun. Air pada pembangkit-pembangkit ini biasanya digunakan untuk mendinginkan generator, menghasilkan uap untuk memutar turbin, memproses dan memurnikan bahan bakar, serta mengangkut bahan bakar melalui pipa.
PLTS yang menggunakan panel fotovoltaik tidak membutuhkan banyak air. Dalam pengoprasiannya tidak dibutuhkan sama sekali air untuk menghasilkan listrik, sehingga dapat mengatasi masalah pada penggunaan air yang berlebih pada pembangkit listrik
Pengadaan PLTS tentunya juga membawa dampak negatif yang tidak langsung terhadap lingkungan sekitar. PLTS mengubah sinar matahari menjadi listrik dengan sel surya atau sel fotovoltaik. Sel fotovoltaik ini apabila terjadi kecelakaan dalam produksinya dapat menyebabkan bahan berbahaya seperti arsenik, kadmium dan silikon yang dikenal sebagai penyebab kanker mencemari lingkungan sekitar. Selain itu setelah instalasi sel fotovoltaik terdapat bahan kimia beracun yang menjadi limbah. Limbah berbahaya tersebut apabila tidak dikelola atau dibuang dengan benar juga dapat membahayakan. Kemudian akan muncul masalah juga jika panel surya atau sel fotovoltaik yang sudah tidak terpakai dibuang di sembarang tempat karena dapat mencemari lingkungan air tanah.
Kemudian PLTS juga memiliki dampak negatif dari penambangan. Panel fotovoltaik membutuhkan penggunaan mineral langka selama proses pembuatannya. Terdapat lebih dari 19 mineral langka yang dimanfaatkan. Mineral langka adalah sumber yang terbatas dan ditambang secara obsesif di berbagai lokasi di seluruh dunia. Salah satunya adalah Indium. Karena permintaan akan mineral ini untuk meningkatkan produksi energi terbarukan permintaan sangat tinggi, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa tidak akan ada cukup Indium. Selain itu terdapat dampak dari penambangan yang menyebabkan timbulnya lubang runtuhan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kontaminasi limbah logam yang sangat asam pada aliran air dekat lokasi penambangan. PLTS juga dampak berdampak pada hilangnya habitat alami hewan dan tumbuhan karena adanya pembukaan lahan untuk mendirikan PLTS karena PLTS membutuhkan lahan yang luas dan terbuka untuk menghasilkan daya yang besar. Selain itu pantulan cahaya atau konsentrasi matahari dari panel surya tersebut juga berbahaya. Jika ada hewan ataupun serangga dapat terbunuh dan mati jika terkena pantulan cahaya tersebut.
Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk menghasilkan listrik yang bersumber dari energi surya. Energi matahari ini dapat membantu serta memenuhi kebutuhan listrik Indonesia di masa depan dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Indonesia sebenarnya mempunyai potensi pasar yang besar dalam penggunaan listrik dari energi surya, khususnya pada penggunaan dalam rumah tangga, bangunan pemerintah, industri, serta bangunan komersial. Hal ini karena PLTS memiliki sifat sederhana (modular), memiliki
kapasitas yang cukup besar, mudah diakses, serta pemasangannya yang cukup mudah. Diperkirakan bahwa di masa depan, jika PLTS ini semakin komersial di kalangan masyarakat maka tren biaya pembangkit listrik dari energi surya ini akan semakin murah dan kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil. Kedepannya,
penggunaan teknologi PLTS dapat digunakan sebagai substitusi penggunaan BBM pada PLTD maupun PLTU, sehingga PLTS dapat meningkatkan rasio kelistrikan. Kemudian, dilihat dari kondisi Indonesia sebagai negara beriklim tropis tentunya dapat memberi nilai lebih terhadap penggunaan energi surya ini. Jumlah sinar matahari di Indonesia sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Apalagi sinar matahari dalam setiap jam mengandung energi cahaya setara dengan konsumsi energi total dunia selama satu tahun. Oleh karena itu, apabila Indonesia dapat memaksimalkan serta mengoptimalkan potensi dari PLTS maka kebutuhan listrik Indonesia dapat tercukupi dan Indonesia dapat turut berpartisipasi dalam upaya mengatasi krisis perubahan iklim yang mengancam dunia.
Seiring dengan timbulnya berbagai krisis iklim dan lingkungan yang terjadi beberapa dekade ini, umat manusia dituntut atas segala kesalahan tersebut, hari demi hari tidak kunjung menemui titik terang penyelesaian yang nyata, padahal dampak ini telah nyata adanya. Jika menimbang potensi negara Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis, adanya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu alternatif terbaik untuk mengembangkan pasokan listrik di Indonesia sebagai ganti batubara yang saat ini masih menjadi primadona dalam pasokan listrik di Indonesia. Pembangkit listrik tenaga surya terbukti mampu menghasilkan nol emisi bebas karbon sehingga sangat baik dalam mengurangi penumpukan gas karbon yang ada di lapisan atmosfer bumi sehingga dapat mengurangi laju pemanasan global yang saat ini semakin lama semakin memburuk. Hanya saja dalam penerapannya, PLTS juga memiliki beberapa dampak negatif dari sisi bahan baku pembuatan sel fotovoltaiknya mengandung bahan material yang cukup berbahaya jika tidak dapat dikelola dengan baik. Selain itu bahan yang digunakan juga tergolong masih cukup langka dan berujung harus dilakukan penambangan yang mana juga akan merusak lahan dan lingkungan sekitar jika tidak diperhitungkan dengan baik. Namun melihat besarnya potensi dan privilege yang dimiliki Indonesia, dari sisi geografis dan iklimnya, tentunya pengembangan dan inovasi teknologi pembangkit listrik tenaga surya masih sangatlah besar peluangnya untuk bisa menggantikan atau minimal dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik.
Melihat dampak positif dan potensi PLTS di Indonesia diperlukan solusi untuk mengatasi dampak negatif yang timbul pada lingkungan. Untuk mengatasi pencemaran zat zat berbahaya yang diakibatkan oleh kerusakan dan limbah sel fotovoltaik diperlukan regulasi yang ketat terkait dengan pengawasan dan pengelolaan limbah PLTS. Selain itu masalah limbah ini dapat diatasi dengan memaksimalkan pelaksanaan daur ulang. Kemudian untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan dari penambangan bahan baku dari PLTS dapat dilakukan reklamasi dan reboisasi pasca-tambang. Lalu untuk masalah hilangnya habitat dapat diatasi dengan pengembangan dan peningkatan penggunaan PLTS atap dan PLTS terapung.
REFERENSI
Bachtiar, M. 2006. Prosedur Perancangan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Untuk Perumahan (Solar Home System). Jurnal SMARTek. 4 (3): 176 – 182.
Boedoyo, M. S. (2013). Potensi dan Peranan Plts Sebagai Energi Alternatif Masa Depan di Indonesia. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, 14(2), 146-152.
Esdm.go.id. (2012, 19 Juni). Matahari untuk PLTS di Indonesia. Diakses pada hari Jumat, 7 Mei 2021, dari https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/matahari untuk-plts-di-indonesia.
Hadi, A. (2021, Maret 19). Apa Saja Manfaat Panel Surya Serta Bagaimana Aturan Perizinannya?. Tirto.id. https://tirto.id/apa-saja-manfaat-panel-surya-serta bagaimana-aturan-perizinannya-gbiZ.
Indonesia Clean Energy Development II. 2018. Panduan Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat. USAID ICED II: Jakarta.
Kristiawan, H., I. N. S. Kumara dan I. A. D. Giriantari. 2019. Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap Gedung Sekolah di Kota Denpasar. Jurnal SPEKTRUM. 6 (4): 66 – 70. Kumara, K. V., Kumara, I. N. S., Ariastina, W. G. 2018. Tinjauan Terhadap PLTS 24 KW Atap
Gedung PT Indonesia Power Pesanggaran Bali. E-Jurnal SPEKTRUM. 5(2). Nursyamsyi, M. (2021, Juli 30). Energi Surya Bisa Jadi Solusi Penyediaan Listrik Masa Depan. Republika.co.id. Url : https://www.republika.co.id/berita/pvfzon370/energi-surya bisa-jadi-solusi-penyediaan-listrik-masa-depan.
Rahardjo, I., Ira F. 2005. Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia. Jurnal Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, dan Energi Terbarukan, P3TKKE, BPPT, Januari.
Ramadhan, A. I., E Diniardi dan S. H. Mukti. 2016. Analisis Desain Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Kapasitas 50 WP. Teknik. 37 (2): 59 – 63.
Sanspower.com. (2020, Agustus 10). Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Ssurya. Diakses pada Jumat, 7 Mei 2021, dari https://www.sanspower.com/pembangkit-listrik tenaga-surya-menggunakan-panel-surya.html
Santhiarsa, I. G. N. N dan I. G. B. W. Kusuma. 2005. Kajian Energi Surya Untuk Pembangkit Tenaga Listrik. Teknologi Elektro. 4 (1): 29 – 34.
Soesanto, S. S. 1999. Pembangkit Listrik; Dampaknya Pada Kesehatan dan Lingkungan. Media Litbangkes, 9(2): 26-29.
Sollarcellsurya.com. Begini Cara Kerja Listrik Tenaga Surya Untuk Rumah. Diakses pada Jumat, 7 Mei 2021, dari https://www.solarcellsurya.com/cara-kerja-listrik-tenaga surya/#:~:text=Bagimanakah%20cara%20kerja%20listrik%20tenaga,yang%20akhirny a%20akan%20menghasilkan%20listrik
Sollarcellsurya.com. Cara Kerja Panel Surya Sederhana. Diakses pada Jumat, 7 Mei 2021, dari https://www.solarcellsurya.com/cara-kerja-panel-surya/
Comments
Post a Comment